Rabu, 10 November 2010

WASPADAI MAKANAN KEMASAN



Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}
Memang telah menjadi kontroversi kita bersama   sebagai masyarakat modern, bahwa makna hidup sehat yang  kita  dambakan  jusrru semakin  pelik diwujudkan, Di satu sisi kita  semakin mudah untuk  mendapatkan kepuasan hidup, namun disisi lain semakin sulit untuk mendapatkan arti hidup sehat.  Rupanya teknologi yang dicapai oleh  masyarakat dunia belum mampu menjamin  peningkatan kesehatan,  justru malah semakin menambah  ketergantungan  manusia  terhadap  bahan kimiawi.
Betapa tidak,  karena hanya semata-mata mendambakan  menu makanan yang berimbang dan hygeinis, masyarakat kita harus  merelakan mengkonsumi  zat kimia  (Bahan Tambahan Pangan) yang dikandung   makanan dalam kemasan,  tanpa memperhatikan dampak terhadap tubuh kita.  Fakta  tersebut dewasa ini telah akrab di tengah masyarakat kita. Oleh karena itu  sangatlah bijaksana bila masyarakat perlu mendapatkan informasi  tentang BTP   tersebut.
 Yang dimaksud BTP Pengawet adalah bahan tambahan pangan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme. Kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh fungi, bakteria dan mikroba lainnya  (Pustekom, 2006). 
Dengan penambahan zat tersebut ke dalam makanan kemasan, maka secara komersil membawa berbagai keuntungan  tersendiri, yaitu  tahan lama,  tampak segar ,  praktis, siap dikonsumsi, flavaourable  dan menyimpan nilai estitika lainnya. Sehingga dengan  kelebihan  cita rasa tersebut menjadikan manusia modern lebih menyukai makanan kemasan ketimbang makanan alami..
Beberapa jenis BTP  Pengawet  yang  dijinkan oleh pemerintah menurut  Peraturan  Menteri Kesehatan Nomor. 1168/MENKES/PER/X/1999 yang merupakan Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan yang diperbolehkan., adalah Asam Benzoat, Asam Propionat. Asam Sorbat, Belerang Dioksida, Etil p-Hidroksi Benzoat, Kalium Benzoat, Kalium Bisulfit, Kalium Meta Bisulfit, Kalkum Nitrat, Kalium Nitril, Kalium Propionat, Kalium Sorbat, Kalium Sulfit, Kalsium Benzoit, Kalsium Propionat, Kalsium Sorbat, Natrium Benzoat, Metil-p-hidroksi Benzoit, Natrium Bisulfit, Natrium Metabisulfit, Natrium Nitrat, Natrium Nitrit, Natrium ppropionat, Natrium Sulfit, Nisin dan Propil-p-hidroksi-benzoit .
Adapun bahan tambahan makanan yang dilarang dalam penggunaannya karena dapat membahayakan kesehatan, adalah:  Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya, Asam Salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its salt), Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate, DEPC), Dulsin (Dulcin), Kalium Klorat (Potassium Chlorate), Kloramfenikol (Chloramphenicol), Minyak Nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils), Nitrofurazon (Nitrofurazone), Formalin (Formaldehyde) dan Kalium Bromat ( Sumber : Pustekom 2006 ).
  • Formalin dan Boraks
 Namun  demikian adanya ulah  pihak pihak yang tidak bertanggung  jawab  dan hanya mengedepankan keuntungan komersial belaka,  memaksa mereka  untuk menggunakan  bahan pengawet yang  yang umum terjadi dipasar bebeas meski tidak dijinkan  oleh pemerintah,  yaitu  penggunaan  formalin (  bahan pengawet mayat )   dan Boraks.  
Formalin  dihasilkan dari proses pengenceran Formaldehid ( 40 % ). Senyawa ini memiliki fungsi yang luas, diantaranya yaitu pada industri resin ( bahan dasar fiber), tekstil dan lain sebagainya; Khusus penggunaan di laboratorium, formalin berguna sebagai bahan pengawet, karena mampu membunuh semua jenis mikroorganisme pembusuk bahan. Selain itu Formalin memiliki bau yang keras dan menyengat. (Sumber: Reynolds, Martindale The Extra Pharmacopoeia, 30th ed, p717. NCBI).
Sudah barang  tentu  penggunaan formalin sebagai bahan pengawet  pada makanan kemasan ataupun bahan makanan di pasar bebas ( bakso, tempe, tahu, daging, ikan dan lain sebagainya ) akan membahayakan  kesehtan masyarakat. Apalagi  dengan kadar di luar  takaran  dan sulit untuk dipantaiu oleh institusi terkait. Pengaruh yang membahayakan tersebut, adalah : iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing. Efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang : iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, system saraf pusat, gangguan menstruasi  dan karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah  jangka panjang ,karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh (Sumber : www.pom.go.id).
Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat, berbentuk krista llunak. Jika dilarutkan dalam air akan menjadi natrium hidroksida serta asam borat. Baik boraks maupun asam borat memiliki sifat antiseptik, dan biasa digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata..
Efek negatif  Boraks pada kesehatan manusia adalah  terjadinya akumulasi (penumpukan) pada otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian.
Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi. Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 - 20 g atau lebih (www.disperindag-jabar.go.id. 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar