Rabu, 10 November 2010

Risiko biologis dari mengkonsumsi binatang melata (reptil)



ScienceDaily edisi 10 Februari  2010 menurunkan artikel ini menyatakan bahwa orang yang membudidayakan reptile dalam kandang tertutup tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kulitnya, namun pada perkembangan terakhir ada beberapa restoran dan sebagian kelompok masyarakat juga ingin mengkonsumsi dagingnya. Sebuah studi menunjukkan bahwa memakan binatang melata ini dapat memberikan efek sampingan yang sekaligus mempertanyakan sejah mana kepatutan mengkonsumsi 'makanan lezat' jenis binatang melata ini.
Berbagai hal dapat diitemukan pada daging reptil seperti parasit, bekteri dan virus dan dalam hal tertentu kontaminasi dari logam berat serta residu dari obat hewan, sehingga memakan daging reptil dapat menyebabkan problem besar bagi kesehatan manusia. Inilah kesimpulan studi yang diterbitkan dalam Jurnal internasional Mikrobiologi Makanan, yang menunjukkan bahwa bahwa manusia dapat terkena beberapa penyakit (seperti trichinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis dan sparganosis) terkait dengan mengkonsumsi daging reptil sejenis buaya, kura-kura,  kadal atau ular.
"Risiko mikrobiologi yang paling jelas muncul dari kemungkinan hadirnya bakteri patogen khususnya Salmonella, Shigella dan Escherichia coli, Yersinia enterolitica, Campylobacter, Clostridium and Staphylococcus aureus, yang kesemuanya menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang berbeda" demikian kata Simone Magnino penulis utama dari studi dan seorang peneliti untuk Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Ahli ini mengatakan data terkait dengan risiko bagi kesehatan publik memang belum dapat disimpulkan karena belum ada informasi yang bisa dijadikan sebagai pembanding tentang konsumsi daging ini dan kaitannya dengan unsur patogen / racun dalama daging. Juga belum banyak artikel penelitian yang telah diterbitkan tentang kasus penyakit yang dihubungkan dengan memakan daging reptil.
"Meskipun secara mayoritas informasi yang telah diterbitkan perihal risiko yang terkait dengan reptil ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya minat manusia untuk memilki binatang piaraan (pets), ditambah dengan adanya publikasi yang berkenaan dengan jenis binatang liar yang dipelihara dalam kandang tertutup", jelas Magnino.

Daging seharusnya dibekukan
Para akhli ini menghimbau orang untuk membekukan daging tersebut sebelum dikonsumsi, sama halnya seperti mereka lakukan pada jenis makanan lain asal binatang karena proses ini akan menonaktifkan pertumbuhan parasit. Proses industri dan cara memasak yang benar (misalnya tidak membiarkan daging mentah) juga dapat membunuh patogen.
Pada diskusi panel ilmah tentang risiko biologis oleh Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) memberikan saran yang tidak mengikat perihal issu terkait dengan keamanan pangan secara langsung maupun tidak langsung termasuk risiko yang berhubungan dengan mengkonsumsi daging reptil.
Tujuan dari evaluasi terhadap risiko ini adalah untuk dapat memberikan badan / institusi yang relevan (seperti Komisi Eropa, Parlemen Eropa, Konsulat Eropa dan Anggotanya) dengan dasar ilmiah untuk dapat membantu membuat peraturan dan hukum yang menjamin perlindungan konsumen.
Beberapa negara menetapkan jenis hewan seperti kura-kura, buaya, ular dan kadal sebagai sumber protein dalam rantai makanan manusia. Kita banyak menemukan impor daging beku dari hewan sejenis buaya, kaiman, iguana dan ular piton di kawasan Eropa. Daging impor ini, yang kini terus meningkat dan digemari, didatangkan terutama dari Afrika Selatan, Amerika dan Zimbabwe dan dikirimkan ke negara seperti Belgia, Perancis, Jerman, Belanda dan Inggris.
Sumber: Journal Reference: Magnino et al. "Biological risks associated with consumption of reptile products". In International Journal of Food Microbiology, 2009; 134 (3): 163 DOI: 10.1016/j.ijfoodmicro.2009.07.001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar